Di salah satu ruangan khusus yang berada di dalam paviliun yang telah menjadi tempat pertemuan mereka, Narendra, Arkha, dan Jelita sedang duduk dalam diam. Di tengah ruangan, dupa harum membumbung dari tungku giok, menenangkan pikiran. Ketiganya terlihat letih, namun jelas mereka memiliki tekad untuk menjalani kehidupan mereka kedepannya.

“Sekarang hanya tinggal kita bertiga,” gumam Arkha, menatap langit-langit. Kesedihan melanda hatinya karena baru beberapa hari yang lalu mereka merasa gembira dengan bergabungnya kembali Leena, anggota mereka jadi terasa lebih lengkap. Saat itu, harapan untuk menemukan penduduk Surya seperti tinggal selangkah lagi. Namun kini, harapan itu seakan direnggut oleh duka dan kehampaan. Anggota mereka terpencar, dan Kael... Kael telah tiada.

Narendra mengangguk pelan. “Benar, Arkha. Tapi ini justru jadi alasan tambahan untuk kita jadi lebih kuat. Kalau Lala kembali nanti, aku ingin dia melihat bahwa kita sudah berubah. Bahwa kita bisa diandalkan.”

Nada suaranya tegas, tapi getaran kesedihan masih terasa jelas. Setiap kali nama Lala terlintas, hatinya terasa sesak. Tapi kesedihannya berbeda dari yang dirasakan Arkha dan Jelita.

Sebagai sesama perempuan, Jelita bisa membaca bahasa tubuh dan sorot mata Narendra. Beberapa hari yang lalu, ia pernah menggoda Narendra dengan pertanyaan ringan, menanyakan bagaimana perkembangan hubungan antara dia dan Lala. Narendra hanya menjawab dengan senyum kecil, senyum pahit yang tak membutuhkan kata-kata.

Jelita dan Narendra sama-sama tahu… di hati Lala, hanya ada satu nama, Lynx.

“Kau memikirkan Lala, ya?” tanya Jelita perlahan, matanya menatap Narendra dengan lembut.

Narendra tersentak kecil. “Aku… tidak. Aku hanya...”

“Tidak perlu menyangkal.” Jelita tersenyum samar, walau dalam dadanya sendiri, ada perasaan getir yang tak kalah kuat. Ia dan Lala menyukai orang yang sama, namun pria itu telah memilih. Bukan dia… bukan Lala… tapi seseorang yang sudah menggenggam takdir lebih besar dari sekadar cinta.

“Kau tak perlu khawatir,” lanjut Jelita, suaranya tenang seperti embun yang menetes dari dedaunan pagi. “Lynx pasti akan menemukan Lala dan membawanya kembali. Dia bukan orang yang menyerah. Dan aku yakin… pengorbanan Kael tak akan sia-sia. Lynx akan membalas mereka semua.”

Narendra menunduk. Air mata yang sejak pagi ditahannya kini mulai membasahi bulu matanya. Ia hanya mengangguk, tak sanggup berkata.

Dalam diamnya, pikirannya kembali mengingat satu hal.

"Aku tidak bisa berlama-lama seperti ini. Guru sudah memberiku tanggung jawab. Aku harus menjalankan perintahnya…"

Tiba-tiba, pusaran angin spiritual mengguncang ruangan. Formasi teleportasi yang rumit dan bercahaya muncul di tengah ruangan, membentuk pusaran cahaya ungu keperakan yang menyilaukan. Mereka serentak berdiri, tubuh menegang, waspada terhadap kemungkinan apa pun.

Cahaya itu meredup... dan dua sosok muncul dari dalamnya.

“Lynx! Leena!”

“Ketua Suku, kalian kembali!” seru Arkha dengan napas tercekat.

Narendra segera maju. “Guru, apakah sudah bertemu Karim?”

Namun Lynx tidak menjawab. Tanpa sepatah kata, ia menghilang dalam sekejap, tubuhnya melesat keluar seperti bayangan petir.

Leena, yang baru saja menjejakkan kaki, berkata cepat, “Cepat! Bantu Lynx temukan artefak berbentuk piramida tiga tingkat, berwarna giok tua, di sekitar lokasi ledakan!”

Tanpa menjelaskan lebih jauh, ia pun berlari mengejar Lynx, meninggalkan mereka dalam keheningan dan kebingungan.

“Artefak? Piramida?” gumam Arkha, saling berpandangan dengan Narendra dan Jelita.

Meski terkejut, mereka tak membuang waktu. Keseriusan Lynx dan Leena bukan sesuatu yang bisa diabaikan. Tanpa banyak tanya, mereka segera bergerak mengikuti mereka ke lokasi ledakan.

Tak lama, mereka semua, Jelita, Arkha, dan Narendra, tiba di lokasi bekas ledakan. Terlihat puing-puing bangunan di sekitar masih belum dibersihkan. Lubang besar berdiameter belasan meter masih terlihat jelas. Mereka melihat Lynx dan Leena yang terlihat memandang ke arah sekitar dengan wajah serius.

"kepala suku. Kami sudah memerintahkan anggota kita yang berada disekitar sini untuk datang berkumpul dan membantu mencari artefak yang sedang Kepala Suku cari." Kata Arkha setibanya di samping Lynx.

"Bagus, atur mereka untuk menemukan artefak seukuran tangan bayi. Artefak itu memiliki bentuk pola awan mengalir di dindingnya." Lynx menjelaskan ciri-ciri artefak pagoda Qingling.

Lynx berkata dengan serius, sebelum kembali mencari, "Ingat! Secepatnya temukan artefak tersebut bagaimanapun caranya."

Tidak lama, beberapa anak buah Kael yang masih bertugas di sekitar tempat itu segera bergabung dalam pencarian.

“Piramida tiga tingkat,” ulang Narendra. “Harusnya tak sulit ditemukan...”

"Leena, ada apa dengan artefak tersebut? Kenapa Lynx sangat serius mencarinya?" tanya Jelita saat mencari artefak di sekitar perumahan bersama Leena.

Leena berhenti dan memandang Jelita,"Kael masih hidup. Tapi kondisinya kritis dan kita harus menemukannya. Kemungkinan besar dia berada di artefak tersebut."

"APA? Kael masih hidup?" suara Jelita yang terkejut terdengar oleh orang-orang di sekitar mereka yang mencari.

Segera semua datang mendekati Leena dan Jelita meminta penjelasan.

"Aku akan jelaskan nanti, yang pasti Kael diperkirakan masih hidup. Segera temukan artefak tersebut!" Perintah Leena tegas.

Dengan semangat, mereka mencari keseluruh kota untuk menemukan artefak tersebut dengan sebuah harapan baru.

"Kael, kuharap kamu benar-benar masih hidup." Batin Narendra.

"Tuan Narendra, kita sudah mencarinya tetapi tidak kita temukan. Apakah ada kemungkinan artefak tersebut ikut hancur bersama ledakan?" Tanya salah satu anggota mereka.

Narendra yang mendengar pertanyaan tersebut segera berkata dengan tegas,"Cari sampai dapat. Perluas area pencarian. Aku yakin, artefak itu masih ada disini."

Segera para anak buah mereka segera menyebar memperluas area pencarian. Karena mereka yakin artefak tersebut sudah tidak ada di dekat lokasi ledakan.

Leena berdiri di atas atap sebuah rumah, menatap area yang telah hancur berlubang. Angin sore meniup rambutnya pelan. Ia menghela napas.

“Mungkinkah... Seperti yang dikatakan orang tadi, artefak itu ikut meledak bersama Kael?”

Semua terdiam. Kata-katanya menggantung di udara, menambah beban yang telah ada.

Lynx dengan pendengarannya yang tajam juga mendengar perkataan salah satu anak buah mereka, namun Lynx tetap pantang menyerah. Tangannya mengepal. Ia menolak menyerah, karena jika tuan Zhen mengatakan Kael masih hidup, berarti artefak itu juga masih utuh. Karena jika artefak tersebut hancur, maka orang yang berada didalamnya pasti ikut hancur.

Lynx memandang batu jiwa milik Kael yang terasa bernyawa namun terasa sangat lemah.

Tiba-tiba, dari kejauhan, Leena yang masih berdiri di atas atap rumah, melihat seorang anak kecil berusia sekitar lima tahun terjatuh di antara reruntuhan dan mulai menangis. Bocah itu mengenakan jubah usang berwarna coklat lusuh yang tampak kebesaran, wajahnya kotor oleh debu, dan lututnya terluka.

Ia menangis tersedu-sedu, sesekali memanggil, “Ibu... Ibu...”

Leena yang berdiri di atas atap segera melompat turun dengan gerakan ringan. Tubuhnya melayang anggun seperti daun yang tertiup angin, sebelum mendarat lembut di dekat anak itu.

“Tenang... kamu tidak apa-apa?” tanya Leena lembut, berlutut memeriksa luka di lutut sang anak.

Anak itu mengangguk sambil terisak, lalu memeluk Leena erat-erat. “Aku kehilangan ibu...”

Di sisi lain, dari balik pojok bangunan, Leena melihat seorang wanita paruh baya berlari-lari dengan wajah panik. Pakaiannya lusuh, rambutnya acak-acakan, dan matanya merah—jelas ia telah mencarinya sejak lama.

“Anakku!” teriak wanita itu dengan suara nyaris parau. “Kenapa kamu pergi jauh-jauh?!”

Leena mengangkat anak itu dan membawanya cepat menghampiri sang ibu.

Sang ibu langsung memeluk anaknya erat, menangis dalam haru. “Jangan tinggalkan ibu lagi...”

Setelah berpelukan sejenak, wanita itu menatap Leena dan berkata penuh rasa terima kasih, “Terima kasih, nona. Anda sangat baik. Saya... saya tidak tahu harus berkata apa.”

Leena tersenyum hangat. Namun saat hendak membalas ucapan sang ibu, matanya menangkap sesuatu yang aneh.

Tangan kecil sang anak menjulur ke dalam keranjang kayu tua milik ibunya. Ia menarik keluar sebuah benda yang dibungkus kain lap—bentuknya seperti pagoda kecil berwarna giok tua.

Leena menahan napas. "Mungkinkah...?"

Ia jongkok perlahan, menatap benda itu tanpa berkedip. Seperti perkiraannya, benda itu adalah artefak yang sedang di cari oleh mereka, Pagoda Qingling,, dengan pola awan mengalir di dindingnya.

.

